Menebar Cerita dan Inspirasi

Pilih Sukses atau Nyaman ?

Hari ini (sabtu, 3 desember 2011), penulis mengikuti pertemuan dengan leader penulis di prudential. Pertemuan itu juga diikuti seluruh agen di bawah naungan leaderku tersebut yang biasa di panggil pak yan. Cukup lumayan lama juga tidak hadir disetiap pertemuan yang biasanya diadakan pada sabtu atau senin tiap pekannya.

Agenda pertemuan biasanya diisi dengan sharing dari sesama agen, atau cerita pengalaman yang di rasakan oleh leader yang mungkin agen-agen baru prudential InsyaAllah akan mengalaminya suatu saat nanti. Ternyata agen-agen yang hadir lainnya lebih banyak pengalamannya dari penulis, sehingga penulis lebih banyak mendengarkan saja, agar banyak ilmu yang terserap.

Sebenarnya sudah sejak lama, agen yang merekrut penulis untuk bergabung, tapi karena banyak pertimbangan akhirnya baru 2 bulan yang lalu baru ujian Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Itu pun setelah merasakan betapa nikmatnya menjadi seorang marketer yang telah memasarkan beberapa puluh mesin EDC bank terbesar di Indonesia. Sehingga, kekhawatiran atas ketidakmampuan menjual asuransi tidak menjadi penghalang lagi. Bahkan menjual barang apa pun saat ini tidak menjadi kendala bagi penulis, kata orang minang....udah bermuka badak, he..he... tapi pengalamannya masih baru, masih perlu belajar banyak.

Kembali ke pokok cerita. Satu hal dari beberapa hal yang bisa kutangkap dari cerita leader penulis adalah " Mau Pilih Sukses atau Nyaman ? ". Lanjut leader penulis bercerita, beliau suatu ketika, mendengarkan suatu penyampaian dari seseorang pemateri tentang hal ini. Ini sebenarnya sebuah pilihan yang mesti kita pilih. Yang namanya pilihan harus menghilangkan atau merelakan salah satunya.

Ketika kita memilih "Nyaman", maka kita tidak akan bisa sukses. Nyaman membuat kita tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Kita merasa sudah serba cukup, serba ada. Dan kita tidak termotivasi untuk bangkit, bahkan untuk menghadiri seminar peluang usaha pun tidak perlu lagi rasanya.

Akan tetapi, jika kita memilih untuk "Sukses", maka kenyaman tidak akan kita temukan, kita mesti ikhlas merelakannya pergi. Sebuah contoh, ketika penulis sudah membuat janji dengan nasabah pada hari sekian dan jam sekian, ternyata ketika hampir mendekati waktu yang telah ditentukan, ternyata kondisi saat itu sedang hujan lebat. Apabila penulis memilih "Nyaman", maka mungkin penulis akan menelpon nasabah tersebut dan bilang pertemuan kita tunda saja ya Bpk/Ibu. Nasabah pun ketika mendengar alasan kita, mungkin juga akan berfikiran "emangnya siapa yang perlu, saya atau dia", dan memandang kita kurang serius, dan kurang semangat.

Hal yang berbeda ketika disaat hujan yang lebat kita berupaya untuk tepat waktu, maka sang nasabah pun mungkin akan merasa bahagia menyambut kita, merasa haru mungkin juga di rasakan. Halangan yang berat, tapi kita tetap tempuh demi menghargai janji ketemu dengan nasabah. Sang nasabah tersebut pastinya akan tambah salut kepada kita, apa pun yang kita tawari mungkin nasabah akan mau menerimanya, tidak hanya itu...seluruh makanannya di rumah pun mungkin akan di tawari ke kita.

Sekarang tinggal kita saja, mau memilih sukses atau nyaman !




3 Kejahatan Intelektual Kalangan Mahasiswa

Pada buku yang berjudul " Menembus Koran (Cara Jitu Menulis Artikel Layak Jual) " karangan Bramma Aji Putra terbitan Leutika di dalam Bab I buku tersebut tertulis 3 Kejahatan Intelektual Mahasiswa yang tidak boleh terjadi. Kejahatan Intelektual tersebut adalah :
  • 1. Tidak Suka Membaca

    Membaca merupakan kunci membuka segala tabir rahasia semesta. Jika ingin banyak tahu, maka membaca adalah solusinya, bukankah Allah Swt. menurunkan ayat Alquran pertama kalinya dengan perintah "membaca" (QS.Al-Alaq(96):1). Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial, jika tidak gemar membaca maka tidak akan mengetahui persoalan-persoalan yang terjadi disekitarnya. Sarana telah tersedia, tinggal kemauan yang diperkuat.

  • 2. Tidak Senang Berdiskusi

  • Berdiskusi juga termasuk sarana memperkaya khazanah ilmu kita. Pemikiran orang pun tidak ada yang sama, untuk itulah dengan berdiskusi segala pemikiran yang ada akan dapat disatukan dan menjadi sebuah solusi atas sebuah permasalahan. Dengan aktif berdiskusi otak kita akan senantiasa berfikir dan berkembang, sehingga semangat hidup akan terasa sebab kita memberikan sebuah kontribusi di dalamnya. Manfaatkan kegiatan di perkuliahan, organisasi kampus (intra dan ekstra),kegiatan seminar, atau pun di dunia maya (antar blog, forum, chatting, dsb).

  • 3. Tidak Hobi Menulis



  • Sahabat Nabi Saydina Ali bin Abi Thallib menyatakan " Ikatlah Ilmu itu dengan Menulis ". Menulis merupakan sarana aktulisasi diri. Dengan menulis kita pun bisa mematenkan di otak kita ilmu yang telah kita dapatkan. Mahasiswa yang tidak hobi menulis akan di cap sebagai orang yang sombong karena tidak bersedia membagi ilmu yang telah dia dapatkan. Masih lemahkah motivasi anda menulis?

    Jika motivasi menulis anda masih lemah, sekarang saatnya untuk ditingkatkan. Menulis bisa menghasilkan, tidak hanya untuk di terbitkan di koran atau sebuah buku. Menulis yang menghasilkan dapat anda lakukan di dunia maya, seperti yang telah saya hasilkan pada Blog Riky, di dalamnya terdapat artikel tentang bisnis online, bahkan yang terbaru, saya mendapatkan sebuah tugas review dengan nilai Rp. 20.000,- dengan 300-500 kata. Lumayan bukan, jika 1 review saja terus ada per hari, perbulan akan menghasilkan berapa? dan jika saya punya 10 blog yang terdaftar di situs review http://adreviewcamp.com, maka hasilnya bisa anda hitung sendiri. Menarik bukan?