Saya adalah mahasiswa Universitas Andalas. Bertempat tinggal tidak terlalu jauh dari simpang Anduring. Kendaraan angkutan umum yang tersedia menuju kampus UNAND Limau Manis adalah Bus kota dan angkot hijau atau biasa disebut masyarakat dan mahasiswa angkot luruih (lurus). Waktu tempuh rata – rata yang dibutuhkan untuk sampai ke gedung kuliah dari simpang Anduring paling cepat 30 menit.
Pada semester genap ini, hampir semua mata kuliah yang saya ambil berjadwal pagi. Jadwal kuliah pagi di UNAND di mulai pada pukul 08.30 Wib. Namun, ada juga beberapa fakultas yang menerapkan pukul 07.30 atau pukul 08.00 Wib.
Hari ini ( kamis, 2 Juli 2009 ), saya sangat terlambat untuk pergi kuliah. Tugas kuliah yang sangat banyak dan belum selesai dikerjakan pada malam tadi, membuat waktu saya pada pagi ini tersita untuk menyelesaikannya. Terpaksa berangkat dari rumah pukul 08.15 Wib, 15 menit sebelum waktu perkuliahan seharusnya di mulai.
Biasanya, saya berangkat kuliah dari rumah paling lambat pukul 07.45 Wib. Jadwal berangkat ini, bisa di bilang cukup pas untuk saya terapkan, dengan pembagian waktu 5 menit menuju simpang Anduring, naik bus atau angkot lurus 15 menit sampai pasar baru, 15 menit sampai di kampus, dan 5 menit menuju ruang kuliah, serta 5 menit sisanya untuk menyiapkan diri dalam memulai perkulihan.
Biasanya dari simpang Anduring ke Pasar Baru, kendaraan angkutan umum yang saya naiki adalah kendaraan yang terlebih dahulu menunggu penumpang di simpang Anduring. Saya adalah orang yang tidak suka memilih-milih jenis angkutan umum. Asalkan masih ada tempat duduk yang kosong, baik angkot lurus atau pun bus kota, maka langsung saya naiki.
Waktu menunjukkan pukul 08.20 Wib, begitulah angka yang tertera di handphone saya, itu berarti tinggal 10 menit lagi kuliah segera di mulai. Sebenarnya, ketika mau sampai di simpang Anduring, sudah ada satu angkot lurus dan satu bus kota yang sedang kosong menunggu. Mengingat kita butuh cepat dan pengalaman bahwa angkot lurus jalannya lebih lambat dari bus kota, maka tanpa pikir panjang bus kota yang kebetulan lewat dan tidak terlalu penuh langsung di naiki. Meskipun, bus kota tersebut dari jarak kejauhan saja, musiknya sudah terdengar mamakak an. Biarlah, yang penting cepat sampai, itulah yang terucap dalam hati ketika sudah duduk di bangku belakang bus kota.
Dari segi kecepatan, bus kota lebih unggul dari pada angkot lurus. Namun, dari segi kenyamanan angkot lurus lebih unggul, walaupun agak lambat. Meskipun, begitu tarifnya sama, terserah penumpang mau pilih yang mana.
Satu hal yang perlu kita cermati disini adalah pukul 07.00 sampai 08.00 Wib, merupakan waktu yang paling banyak adalah pelajar dan mahasiswa. Pada waktu – waktu tersebut hampir seluruh angkot lurus dan bus kota dipenuhi penumpang mahasiswa.
Tujuan untuk menarik penumpang, bus kota dan angkot yang mengarah ke kampus UNAND tidak henti-hentinya untuk memutarkan musik, apalagi dengan dentuman keras yang mamakak an telinga. Musik yang diputarkan pun dinilai sungguh tidak bermanfaat dan tidak memberikan penguatan jiwa, dan mencerdaskan kepada mahasiswa. Jika kondisi ini terus berlangsung setiap hari, maka kemungkinan besar kualitas pendengaran mahasiswa ke depan bisa terganggu, dan konsentrasi serta ketenangan dalam maraup ilmu di kampus juga berkurang.
Banyak sopir angkot dan bus kampus beranggapan, semakin mamakak an telingga, musik yang diputarkan maka, semakin banyak penumpang. Anggapan tersebut tidak lah 100 persen benar. Penumpang yang paling suka dengan musik-musik keras itu palingan hanya sebagian kecil siswa SLTP dan SLTA. Mau pakai musik atau tidak untuk mahasiswa sungguh tidak peduli, asalkan aman, nyaman dan cepat sampai, itu yang mahasiswa butuhkan.
Mahasiswa yang diangkut bus kota dan angkot lurus, merupakan aset bangsa. Kaum Intelektual yang berusaha mengisi jiwa dan memperdalam ilmu di kampus, yang setelah tamat nanti diharapkan dapat menerapkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat. Dan sebuah kebanggan yang sangat, bagi sopir dan pengusaha bus kota dan angkot karena apa yang mereka perbuat, merupakan upaya menolong kaum intelektual untuk menuntut ilmu.
Sebenarnya tidak hanya itu saja yang sopir dan pengusaha bus atau angkot lurus, serta kendaraan angkutan umum lainnya dapat lakukan. Jika punya fasilitas tape dikendaraannya, maka putarlah musik-musik yang membangun jiwa dengan frekuensi yang sesuai, seperti musik religi (Nasyid). Musik-musik religi sangat banyak beredar di pasaran dan gampang untuk mencarinya, apalagi fasilitas tape yang di miliki angkot dan bus kota sudah canggih, bahkan ada yang sudah memakai flashdisk tidak kalah dengan mahasiswa pada umumnya. Dengan nyanyian penyentuh jiwa tersebut, diharapkan ketenangan menghampiri mahasiswa, dan dapat lebih serius dalam menghadapi perkuliahan.
Tidak dikatakan sebagai mahasiswa, jika tidak mengetahui perkembangan kondisi bangsa saat ini. Siaran berita di radio sebagai salah satu alternatif, yang bisa diputar oleh sopir angkot dan bus kota. Sambil jalan menuju ke tujuan, minimal mahasiswa mengetahui perkembangan yang terjadi saat ini. Mungkin saja salah satu isi berita yang didengarkan dalam perjalanan, bisa jadi menjadi bahan perbincangan antara dosen dan mahasiswa. Sungguh sangat beruntung, jika sopir angkot dan buskota memiliki pemikiran dan melakukan hal yang sama seperti penulis dan mahasiswa lainnya harapkan.
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)



0 komentar:
Poskan Komentar
Mohon masukannya ya Sobat...